Gamer Gak Harus Toxic, Kan?

Suatu hari, Ical, anak lanang yang beranjak 13 tahun di tahun 2020 ini, mendapatkan komentar dari temannya. bahwa Ical ini termasuk kategori teman yang No-Toxic. Mmm, saya yang masih menerka-nerka, apa arti *toxic* di kalangan anak-anak jaman now, langsung bertanya ke Ical, “Kak, toxic itu apa?”.

“Itu loh Bun, toxic itu yang ngomongnya kasar, kadang juga saru”.

Oh, baiklah saya paham.

Belajar Jadi Gamer Anti-Toxic Ala MiawAug

Beberapa waktu lalu, saat buka youtube, di timeline saya ada selintas channel Deddy Corbuzier mewawancarai MiawAug. Sebenernya, udah cukup lama nih saya tau channel ini. Bahkan selintas Ical juga pernah cerita, kalau MiawAug ini anti-toxic. Saya pernah nonton salah satu videonya, hanya saja tidak begitu memperhatikan, hanya selewat saja.

Setelah saya tonton full interview Deddy ke MiawAug yang punya nama aseli Regi ini, barulah saya ngeh, sengeh-ngehnya, kalau gamer yang satu ini, memang anti-toxic. Bahkan di beberapa videonya, ada yang komen minta Regi untuk bicara toxic. “Biar lucu, biar seru”. Tapi karena Regi tidak terbiasa dengan hal tersebut, maka ia tetap pada stylenya.

source: https://www.instagram/miawaug

Regi memilih kata-kata seperti *dodol*, sebagai pengganti kata-kata toxic yang banyak beredar, misal anj**g. Bahkan kata terjorok yang ia sebutkan di video uploadan youtubenya adalah *sial*. Yes, even kata *sial* ini pun bisa kita bilang masuk kategori kata yang cukup kasar, but it’s better dibanding segala kata binatang dan sumpah serapah lainnya.

Ketika melihat video-video channel youtube MiawAug, memang kita akan disuguhkan dengan karya yang rapi. Selipan-selipan humor yang cerdas, apalagi dengan adanya tips & trick seputar dunia gaming yang tentu ditunggu oleh para pecinta game.

Baca Juga  Membuat Konten Podcast Yang Menarik? Perhatikan Elemen-Elemen Audionya Berikut Ini!

Ketika Anak Tertarik Sebagai Gamer

Kelas 4 SD, inilah saat Ical pertama kali mulai bilang ke saya, pengen bikin channel youtube yang isinya game. Mmm, jujur ya, waktu itu saya belum begitu merestui. Alasan klasik, mau apa memangnya nanti kalau hidupnya hanya dipenuhi dengan mikir game?

Lalu beranjak kelas 5, Ical bertanya lagi, misal belum boleh youtube, boleh gak di aplikasi streaming yang disitu bisa sharing seputar tips game yang biasa ia mainkan.

Setahun berlalu, jangan kira saya hanya diam saja dengan segala informasi tentang dunia gaming. Setelah saya mendapatkan informasi cukup, dan dengan beberapa kesepakatan dengan Ical, maka saya perbolehkan.

Saya kok lupa ya apa nama aplikasinya, tapi yang pasti Ical akan live di hari tertentu, dan sharing seputar tips & trick game. Disini saya baru ngeh, ternyata ini anak bener-bener bakat ya? Gak cuman sekedar main, tapi ada *sesuatu* yang ia bisa share.

Di beberapa sesi, orang-orang bertanya berapa usia Ical, kenapa kok udah bisa main semahir itu, dst. Saya yang ikut membaca komen-komennya, jadi makin penasaran juga nih, memang seperti apa sih para gamer jaman now?

Orang tua manapun, pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Saya yang awalnya masih ragu dengan keputusan Ical untuk menggeluti dunia gaming, makin kesini makin terbuka, karena melihat bahwa potensi anak, di bidang apapun, selama itu positif, lebih bisa memberinya kesempatan untuk lebih berkembang suatu saat nanti.

Anak SMP Jadi Gamer, Tetap Butuh Jam Gadget?

Wo, jelas iya! Dari awal Ical mulai tertarik game, saya sudah berikan screen time atau jam bermain gadgetnya. Apalagi sekarang Ical sudah SMP, dan bersekolah di sekolah regular, masuk sekolah jam 7, pulang jam 15.30, kecuali ada ekskul pulang lebih lambat 1 jam.

Baca Juga  Aturan Youtube Channel Anak Menghambat Semangat Berkarya?

Screentime maksimal untuk Ical di jam sekolah adalah 2 jam. Ini pun, dibagi-bagi. Misal pagi sebelum sekolah, Ical biasanya akan cek dan cari ide untuk video-video berikutnya di channel youtube yang ia bangun sekarang. Pagi kisaran 10-15 menit, biasanya ia lakukan sebelum turun dari mobil saat berangkat sekolah.

Sisanya, ia pakai setelah sholat Isya. Ya, ini juga aturan. Jam gadget berlaku, setelah sholat Isya dan sudah belajar. Jadilah Ical belajar diantara jam Maghrib ke Isya.

Di waktu kurleb 1.5 jam di malam hari ini, kadang Ical rekaman untuk konten youtubenya, editing atau sekedar nonton video youtube yang sebagian juga tentang game. “Aku riset dulu ya Bun”, begitu istilah Ical. Kadang ia juga hanya main game tanpa rekaman, alias untuk dirinya sendiri.

Saat nonton video wawancara MiawAug, saya juga menjumpai bahwa Regi ini juga setting porsi kapan ia main game untuk konten, kapan untuk sekedar main untuk diri sendiri, kapan untuk proses editing dst. Ya semua butuh porsi. Meski Regi juga mengakui, pernah *gila-gilaan* baik secara waktu & budget dalam bermain game. Kuncinya NO MORE, yes cukup sudah, sekali ini saja, dan tidak diulangi lagi.

Ini juga yang menjadi bahan pertimbangan saya, ketika Ical mulai tertarik membangun channel youtube gamingnya. Artinya butuh aturan dan disiplin. Saya bilang ke Ical, “Hidupmu gak melulu game loh, Kak, ada interaksi lain di luar sana yang perlu kakak bangun juga”. Alhamdulillah, dengan pemahaman dan seringnya komunikasi 2 arah, Ical mulai bisa mengatur dengan baik, kapan waktunya game, kapan waktunya untuk hal lainnya.

MiawAug Jadi Gamer Anti-Toxic, Kok Bisa?

Yang bikin saya penasaran, saat nonton wawancara Deddy Corbuzier ke MiawAug adalah, apa pengaruh terbesar yang membuat Regi tidak suka bicara kotor atau toxic?

Baca Juga  Vlog: Special Project with My Kids

Jawabnya adalah dari orang tuanya. Ahhh I see, gimanapun orang tua punya andil besar disini. Proses pembelajaran anak, memang berakar dari rumah, dari keluarga dimana ia dibesarkan. Dan Regi dapatkan semua disini. Sampai karakternya terbentuk menjadi seperti sekarang ini.

Bahkan Regi juga menceritakan ketika kumpul dengan teman-temannya, orang-orang yang mengenalnya pun canggung bicara toxic ke Regi. Yes, what you behave, what you get. Orang memang akan memperlakukan kita, seperti kita juga menunjukkan siapa diri kita seperti apa.

Game Creator, Computer Science, IT?

Setelah Ical membangun channelnya hampir 1 tahun, bocah belasan tahun ini, sudah mulai setting impiannya secara jelas. “Bun, aku pengen jadi game creator”. “Bun, ambil ekskul Computer Science boleh?”. “Bun, kalau belajar IT itu nanti kita belajar apa aja?”, dan seterusnya.

Buat saya, anak-anak generasi millenial, sebaiknya secepat mungkin menemukan *dunianya*, menemukan *passion*nya. Karena jaman di eranya nanti, akan dengan cepat berubah dan berkembang.

https://youtube.com/icalsaddha

Tugas sebagai orang tua, sederhana, memberikan support, dan dampingi jiwa raganya. Profesi dari waktu ke waktu makin beragam. Jadi seorang gamer atau youtuber, memang sesuatu hal baru buat siapapun, termasuk saya dan suami. Menjadi orang tua yang open minded, memang sangat kita perlukan di jaman sekarang ini. Atau anak malah sembunyi-sembunyi.

Pesan saya buat Ical, mau sehebat apapun ia tumbuh jadi creator game atau bidang-bidang yang ia jalani nantinya, tetap santun, tetap ingat sama Allah.

 

26 thoughts on “Gamer Gak Harus Toxic, Kan?

  1. Keren Ical, dari hobi main game udah bisa bikin channel Youtube. Nanti saya ajak anak-anak saya nonton ah. Btw soal gamer ini jadi inget anaknya temen yang nyaris kecanduan main game. Kebetulan anak ini high function autis juga. Ibunya sudah berusaha sekuat tenaga meminimalkan jam main game, sampai nggak dikasih kuota internet segala. Eh, sekarang jadi salah satu atlet esport nasional.

  2. Bener banget mbak, jadi gamer itu sebaiknya emang gak harus toxic . Tapi kenyataannya sulit karena lebih banyak yang ngegame tapi tidak ada pendampingan dari orangtuanya. Semoga mbak inna terus bisa mendampingi ical dalam belajar ya mbak. Sukses terus ical.

  3. Wah…baru tahu Kak Ical gamers kirain main musik aja lho…..

    Keren deh Kak Ical.

    Memang segala sesuatu itu berbalik ke ortu ya, Mbak? Ada beberapa ortu yang bangga dengan anaknya yang biasa ngomong kasar. Aku pernah dan sering denger, ngeri banget.

    Sukses terus ya, Kak Ical :*

  4. Saya sekeluarga juga gak anti game. Malah saat masih pacaran, saya dan suami lebih betah main game bareng daripada keluar. Sekarang setelah berkeluarga, anak-anak pun ikut suka ngegame.

    Setuju. Menjadi gamer memang gak selalu negatif, kok. Asalkan tau batas.

  5. Anak saya juga lumayan suka game, apalagi minecraft yang bikin-bikin rumah, istana, dan nyari harta karun gitu . Perna lihat channel yutub kesukaan mereka, alhamdulillah sih masih sopan. Mungkin ini yang disebut nontoxic itu ya.

  6. Anak itu mencontoh ortu
    Walaupun dia menonton gamers yang nontoxic jika ortunya biasa ngomong saru ya bakal ngikutin
    Ketika dia semakin dewasa. Dia meniru lingkungan
    Nah agak susah kalo dia ketemu idols yang suka ngomong toxic

  7. Sejujurnya aku payah soal game. Aku gal bisa main game, gak suka dan gak punya satupun game di hape. Aku lebih suka nonton. Tapi baca ini jadi pengetahuan baru sih buatku.

  8. Tulisan unik ini. Biasanya gamer itu kalo udah keasikan main online, beuh semua isi kebun binatang keluar. Pengendalian dirinya bagus iniii Mas Reginya. Bisa jadi ikon gamer idola anak juga. Yaaaa kita gak bisa ngelak lah, dunia anak sekarang ama kita dulu udah beda. Zaman kita dulu mungkin anak-anak demamnya sama PS, nah kalo sekarang sama game online. Tinggal pinter-pinter orang tuanya aja yg mengontrol anaknya.

  9. Alhamdulillah kalau bs atur waktu …bagaimanapun game itu memang menyenangkan banget sih ya.. Bisa jd racun buat anak2 lain yg ga didampingi ortunya. Kalau aku sih menekankan ke anak2 pilihan hidup yg bs menebar banyak manfaat utk org lain..Semoga Ical tumbuh keren dan bermanfaat dgn segala kelebihan yg dimilikinya..

  10. Gamer kalau di seriusin bisa bikin aplikasi game nantinya & lebih menarik lagi akun youtubenya pasang iklan berbayar. Jika memang sudah sesuai dengan targetnya.😄😄

    Semoga sukses yaa buat Icalnya.😄😄

  11. banyak juga yg nonton video ical, kereeen. btw karena banyaknya channel gamer, suami saya jd pengen bikin jg. wkwkwk… kalah sama ical nih, udah duluan

  12. Hahaha ponakanku yg berumur 8 tahun, sekarang lagi musim juga ngomong toxic. Sedikit2 toxic. Aku pun dibilang toxic. Aku tanya lah, emang apa artinya. Katanya parah. LOL. Pingin ketawa tapi kutahan. Ya sudahlah ya, paling ndak penggunaannya sudah tepat wkwk

  13. Pantesan ya kalau saya perhatikan orang yang main games pasti omongannya toxix gitu?, ternyata itu omongan wajar ya di kalangan mereka tapi bagus nih ada gamer yang anti toxic kayak miAwaug ini. Patut dicontoh.

  14. Kalau membahas game di jaman sekarang dan masih bilang itu toxic, rasanya terlalu berlebihan. Orangtua memang mesti mencari tahu lebih dulu. Game seperti apa, sih?

    Ini mengingatkanku pada salah satu guru yang semasa sekolah sukanya main game. Ini sekolah jaman baheula lho, ya. Kuliah S1 jurusan apa, tapi tetap setelah itu karirnya nggak jauh-jauh dari gadget. Sekarang memang beneran jadi YouTuber dan menjadi guru digital.

    Kalau generasi jaman dulu aja akhirnya jadi orang keren karena game, gimana eranya anak-anak kita ya, Mbak? Tentu, orangtua harus ikutan terjun supaya tahu game seperti apa yang tengah disukai anak-anaknya.

  15. Wah Ical punya konten game juga di channel YouTube nya ya, keren ih. Semoga terwujud impiannya ingin jadi apapun itu. Dan setuju dengan pesan terakhir, jadi apapun harus tetap jadi anak yang santun dan ingat selalu pada Allah

  16. luar biasa Ical mbak saya suka bagaimana dia manage waktu, mulai dari nyari ide sampai proses produksi, saya seneng mbak juga dukung kegiatan dia. memang banyak gamer sekarnag pake kata2 kotor, saya malah baru tau kalo ada peran ortu supaya ga jadi gamer toxic.

    btw, tempat dia streaming di twitch kayaknya mbak

  17. Setuju mba, jaman sekarang semakin bergerak cepat. Yang 10 tahun job seperti youtuber nggak terpikirkan dibenak kita, sekarang menjadi salah satu yang dinantikan. Hal-hal berbau IT yang dulunya masih nggak terjangkau dan masih abu-abu, sekarang jadi salah satu yang memegang peranan penting bahkan memberikan salary terbesar di beberapa company 😀

    Semoga kak Ical bisa segera menemukan passionnya dan mulai berusaha dengan giat untuk mengejar apa yang diimpikan, tentunya dengan aturan ketat dan tak lupa belajar. Salut juga melihat youtubenya bahkan bisa dapat 12k view, sesuatu achievement yang nggak mudah didapatkan. Semangat Kak Ical, semoga semakin bagus kontennya dan diminati banyak orang plus memberikan manfaat bagi sekitar 🙂

  18. Tuh kan emang keluarga itu adalah pembentuk karekter yang utama, makanya kita sebagai orang tua harus kasih contoh yang baik untuk anak-anak kita saya pun sebagai orang tua masih belajar dan berusaha supaya bisa kasih contoh yang baik untuk anak-anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *