Freelancer Juga Butuh Jadwal Kerja?

Salah satu hal yang patut saya syukuri memasuki tahun 2020 ini adalah, dengan aktivitas yang makin bertambah. Sebagai IRT 2 anak, dimana anak-anak paling cepat pulang jam 1 siang, sementara aktivitas dapur paling mentok selesai jam 9 pagi, ini pun sudah masak 2 menu komplit. Beberes rumah, Alhamdulillah masih bisa kepegang, biasanya saat cuci baju atau pilah-pilah baju yang mau disetrikain ke laundry, nah jeda-jeda inilah, bisa nyapu seluruh rumah, kadang ngepel. Eh gimana gimana? Kadang? Berarti jarang ngepel? Ya paling nggak 1 minggu sekali begitulah, kagak sanggup kalau tiap hari ๐Ÿ˜€

Nah, di luar itu, daripada bengong dan nonton film online atau youtuban doang, maka mengisi aktivitas aktivitas sesuai apa yang saya suka dan nyaman, adalah alternatif terbaik. Setelah sejak beberapa bulan terakhir, mulai ngisi blog lagi, konten youtube Saddha Story yang mau diniatin fokus ke cover lagu aja, malah ada cobaan trouble di beberapa alat yang rusak karena proses pindahan dari Jogja ke Jakarta, jadilah sementara semacam dihold dulu, hiks

Sampai kemudian, saya mulai tertarik bikin podcast, dan this is fun! Bener-bener seru dan asik banget. Semacam saya menemukan dunia lama, passion lama terpendam. Begitu pula dengan mulai aktif lagi di dunia Voice Over dan Voice Acting (Dubber), ini jadi berkah tersendiri.

Kalau kata orang, bisa mendapatkan penghasilan berupa uang dari passion itu dambaan sebagian besar orang. Alhamdulillah, ketika satu persatu hal tersebut datang, ternyata kelimpungan juga kalau tidak saya atur. Kapan waktu ngisi VO, kapan waktu update podcast, kapan waktu belajar memperdalam materi dubbing, dst.

Terpaksa, maaf ya blog, dirimu jadi agak tersampingkan selama beberapa waktu ini. Tapi tenang, ku kan selalu kembali padamu kok #eeeaaa

Setelah cukup terseok-seok ngumpulin tenaga dan semangat buat ngeblog lagi, terutama masa-masa pindahan, tantangan berikutnya ketika mempelajari podcast dan materi-materi dunia voice acting ini nyatanya butuh berjam-jam dalam seharinya. Inilah kenapa, saya yang sudah yakin menjalani profesi sebagai freelancer ini, wajib punya aturan, wajib punya jadwal kerja yang jelas. Biar apa? Yaaa biar gak semaunya sendiri. Biar ada koridor kapan ngerjain project, kapan nonton film, kapan ngemil #eh

Kenapa Memilih Jadi Freelancer?

Sekitar 2-3 tahun lalu, waktu masih di Jogja dan sebelum pindah ke Jakarta, pernah tuh nyoba balik lagi ngantor. Saya pikir bakal betah, karena toh anak-anak juga di sekolah, masih bisa saya yang antar jemput, dan pekerjaan juga bukan yang super wow sibuknya. Tapi ternyata? Eng ing enggg, gak betah dong. Mungkin karena secara bertahun-tahun udah nikmatin jadi freelancer, eee terus balik ngantor lagi, semacam kagok. Padahal sewaktu diskusi sama suami, kami juga sepakat, lumayan juga nih penghasilannya, bisa buat bantu bayar sekolah, dll. Eh tapi gimana yaaa, setelah dicoba lagi, gak cucokkk sis!

Baca Juga  Cerita Bisnis Rumahanku

Kalau ditarik ke belakang, salah satu alasan saya memilih jadi freelancer itu karena pengen fokus ke anak. Saya yang lahir sebagai anak bungsu di keluarga besar, mengamati satu demi satu gimana kakak saya dan pasangannya mendidik anak-anak mereka, nah dari situlah, saya seperti punya formula, ooohh nanti pas udah nikah dan punya anak, sebaiknya saya begini dan begitu.

Salah satunya, keputusan untuk gak ngantor lagi, dan fokus dengan anak-anak. Padahal kalau dipikir-pikir, saya ini orangnya gak bisa diem, suami paham bener lah seperti apa istrinya ini. Meski sempat pusing juga, mau ngapain ya nanti setelah gak ngantor. Bahkan setelah nyoba bisnis ini itu, kok ya semacam gak nemu feel jadi pebisnis.

Akhirnya, setelah pencarian bertahun-tahun, menekuni bidang suara yang dulu saya sempat hopeless, kok gagal terus casting jadi pengisi suara ini itu. Lah, gimana, wong dulu belum ada ilmunya, ibaratnya masih cethek banget. Alhamdulillah setelah berjuang cari ilmunya, di usia yang mendekati 40 tahun ini, dreams come true.

 

Tantangan Jadi Freelancer Tanpa ART

Saat masih di Jogja dan tinggal bersama Ibu, tentu bukan hal yang sulit menjadi freelancer. Kadang anak bisa ngobrol dan bercanda dengan Eyangnya pulang sekolah, dan aktivitas seru lainnya. Tapi begitu pindah Jakarta, disaat apapun hampir seluruhnya saya kerjakan sendiri, otomatis butuh menemukan ritme yang tepat.

Jangan sampai, pekerjaan saya sebagai seorang freelance, mengganggu hubungan dan chemistry yang sudah saya bangun bersama anak-anak sejak bayi. Sebagai Ibu, saya ingin tetap hadir untuk mereka, disaat usia-usia mereka memang masih butuh pendampingan dan pengawasan orang tuanya.

Di Jakarta inipun, saya hidup tanpa ART, pola kerja suami masih yang 10 minggu di luar pulau dan 2 minggu stay di rumah, tentu menjadi tantangan tersendiri.

Baca Juga  December = Evaluation

Tips Mengatur Jadwal Kerja Bagi Freelancer

Secara sudah tekad bulat menekuni bidang yang saya suka ini sebagai freelancer, maka mau tidak mau, saya perlu membuat pola kerja, supaya tidak berantakan dan membuat saya bingung sendiri ke depannya. Kalau kamu, seperti saya, seorang Freelancer, yang juga IRT dengan beberapa anak, berikut tips yang selama ini saya terapkan dalam hal mengatur jadwal kerja:

First Thing First & Flexible

Utamakan mana yang paling prioritas. Apakah anak butuh perhatian terlebih dulu? Ataukah anak bisa diajak kompromi dan pengertian? Usahakan mana yang terbaik. Yang saya yakini, pekerjaan sebagai freelancer itu sebenarnya bisa kita sambi. Misal, kita kerjakan beberapa bagian, terus balik ngurus anak & rumah lagi, lalu balik ke ngurus kerjaan. Kita cari ritmenya secara fleksibel tapi jangan sampai lupa mana prioritas utama.

Buat Rencana Kerja

Meski kelihatannya sepele, tapi membuat rencana atau rancangan kerja bagi seorang Freelancer ini penting. Saya yang mengerjakan tugas freelance sebagian besar di rumah dan sebagian lain kadang harus ke studio untuk rekaman, ini juga perlu rencana kerja yang tepat. Terlebih lagi, pekerjaan freelance ini suka dadakan dan deadline juga jatuhnya cepat. Disinilah, dengan adanya rencana kerja yang matang tiap minggunya, saya bisa atur, mau taruh dimana nih pekerjaan yang mendadak ini.

Kelar take voice, sambil lanjut ke proses editing, nemenin anak main, jadi di sekelilingnya ada buku anak, dan crayon ๐Ÿ˜€

Kurang lebih begini sistem rencana kerja saya sebagai freelancer:

Pagi sebelum subuh, saya usahakan bangun terlebih dulu, supaya bisa mempersiapkan detail apa yang saya perlu kerjakan di hari tersebut. Misal, ada take vokal, konsep podcast, konsep blog/ vlog, dst

Baca Juga  My 1st OOM (Oriflame Opportunity Meeting)

Pagi selepas antar sekolah, selesai masak, saya mulai mengerjakan pekerjaan freelance. Atau kadang ketika masak yang bisa disambi, misal masak ayam teriyaki, saya butuh marinasi dulu, jadi saya tinggal nih mengerjakan sebagian pekerjaan yang masuk, ayam biar meresap dulu bumbunya, baru proses memasak saya lanjutkan setelah ayam siap diolah.

Siang sebelum jemput sekolah, saya istirahat sebentar sekitar 30 menitan, kalau bisa tidur, kalau tidak bisa, yaaa yang penting rebahan, tidur-tidur ayam. No gadget!

Setelah anak sampai rumah, ini biasanya saya sudah tidak kerjain lagi. Disini, saya lebih beberes rumah, cucian, intinya yang berkaitan dengan pekerjaan domestik rumah tangga.

Sampai kemudian setelah Isya, saya baru lanjutkan jika yang saya kerjakan di siang hari belum selesai.

Istirahat Ketika Lelah

Nah, ini yang kita bahkan saya bisa jadi kadang abaikan. Sudah merasa capek, tapi masih memaksakan diri. Alhasil, berasa kerjaan gak kelar-kelar, dan emosi juga jadi naik. Yang kena siapa? Ya siapa lagi kalau bukan pasangan atau anak-anak kita? Padahal ini adalah imbas dari kita gak bisa manage waktu kapan mulai mengerjakan job desk sebagai freelancer, dan kapan harus ย break sesaat. Saya pribadi, obat terbaik itu, tidurrrrr. Biasanya saya justru tidur di range sebelum jemput anak sekolah, sekitar 30 menitan cukup dan recharge energi kembali.

Saya pun sekarang, paling tidak bisa begadang, paling mentok jam 10-11 sudah tidur, anak-anakpun mengikuti. Jam 9 itu sudah jam rebah-rebah manis. Alhamdulillah, dengan tanpa begadang, saya yang dulunya sering ngeflu dan cepet drop fisiknya, lebih terbantu dengan sistem tidur yang teratur. Kecualiiii, ketika ada rekaman sampai malam di studio, ya mau gak mau menyesuaikan.

Nah, jadi yaaa, sesibuk apapun kerjaan kita sebagai seorang freelancer, atur jadwal, dan terlebih lagi atur kesehatan juga sangat penting. Freelancer sukses itu banyak, tapi gak banyak yang bisa tetap jaga tubuhnya tetap sehat dan bugar. Ini nih, yang juga jadi PR buat saya, sudah hampir kepala 4, artinya perlu menyelaraskan setiap kegiatan, baik ketika berperan sebagai IRT ataupun freelancer.

34 thoughts on “Freelancer Juga Butuh Jadwal Kerja?

  1. Manajemen waktunya juga harus bagus ya walau freelancer gini, biar kerjaan beres, urusan rumah juga beres, anak-anak dan suami tetap dapat perhatian penuh.

  2. Kerenn mbakkkk… aku freelancer tapi masih single, itu pun sudah keteteran dg jadwal. Ini mbak sudah berkeluarga masih bisa nyambi sana sini. Idola banget!! Yang terpenting jaga kesehatan mbakk. Semangat terus buat kita2 freelancers

    1. Betul, kesehatan itu nomor satuuuuu

      Kalo badan sehat tuh mau jempalitan gimana aja, Insya Allah lebih siapp. Kalau badan dikit-dikit capek, lungrah, hiks jadi keteteran semuanya

  3. Nah, ternyata bekerja di rumah atau suka disebut freelancer itu ga mudah atur jadwal sendiri ya. Apakah butuh manajer? Hahaha ๐Ÿคฃ Akupun masak sambil laptopan. Nonton tv sambil BW, atau makan ngetik sambil makan. Butuh manajemen waktu yg efektif dan efisien ya. Banyak godaannya hehehe.

  4. What a valuable article, Mba!
    Keren banget management waktunya. Aku tuh masih suka gagal di waktu bangun paginya, ini yang sedang aku bener2 berperang deh melawan diri sendiri, yang kayaknya begitu terpanggil untuk lanjut tidur lagi sehabis shalat Subuh. Huft, I am fighting a lots against this!

    Btw, thanks for sharingnya, bermanfaat banget, nih!

    1. Iyaaaa mb, dulu pun ketika saya masih suka tidur diatas jam 11 malam, susah banget bangun sebelum Subuhnya dan badan berasa remuk-remukkk seharian kalo tidurnya terlalu malammm

    1. Saya pun terus belajarrrr mbaa, terutama dalam hal time management ini. Pengalaman kalo gak diatur, duhhh Mak, berantakan, terus mereh-merehhhlah ngedumel sendiri.

  5. sudah teratur, ya. saya masih berantakan nih. sampai ditegur suami, sebelum lanjutin kerjaan yaa kelarin dulu pekerjaan rumah. kudu ada jam no gadget agar bs beres semuanya

    1. Iyesss Mak, saya bener-bener ada waktu no hape dalam sehari. Malah kadang keasikan jadi gak nengok-nengok gadget sampai beberapa jam. Dan it’s all fineee. Kan kalo ada yang urgent, bisa pada telpon langsung.

    1. Iyaa mba, perlu pertimbangkan masak-masak dulu sebelum ambil keputusan. Karena apapun itu, freelance ataupun ngantor full, semua punya tanggung jawab dan komitmen yang sama.

  6. Peer terbesar saya masih blm bisa tidur di bawah tengah malam. Dan bukan karena banyak yg dikerjakan, tetapi emang ga bisa tidur secepatnya saja. Seringnya lewat dari dini hari, baru bisa memejamkan mata…
    Padahal usia sudah lewat kepala empat…

    1. Udah rutin olahraga belum mbaaa? Dulu saya sebelum rutin yoga, tidur berantakan banget. Alhamdulillah sejak mulai rutin, jadi tubuh punya kendali dan pesan. “Eh capek nih”. Jadi langsung bobok deh, hehehe

      Karena saya kalau kurang tidur, bawaannya esmosa esmosi gak jelas, hiks

    1. waaaaa asiknyaaa, saya jadi penasaran gimana deg-deg-annya atau antusiasnya dulu pas memasuki fase awal perpindahan dari ngantor ke freelancer

    1. Sama-sama terus belajar yaa mb kitaaa, Apa yang kurang kita perbaiki, apa yang sudah baik kita lanjutin

    1. Yuk boleh mampir ke Podcast EMAK EKSIS mbaaa, atau ke podcast khusus dongeng & cerita di Podcast DO RE MIE

    1. Bangetttt, freelancer pun juga tetap dituntut profesional ya mbaaa, biar klien hepi dan repeat order lagiiii

  7. Ternyata freelancer tu meski waktunya free, tetep baiknya ada jadwal juga ya, biar profesional dan hasilnya memuaskan. Keren, dapat masukan bgt saiyaaa hhaa

  8. xixixixi.. ada crayon dan buku anak. Saya juga begitu. Ada lego ngamprak dan playdough. Apapun yang kita kerjakan di dunia ini kalau mau rapih ya harus ada schedule-nya, walaupun kadang ada yang mendadak dangdut dikit. xixixi.. Makanya suka sebel kalau dateng yang dadakan begitu.

    1. Iya kadang sebel juga kalo datengnya dadakan, tapi serunya kalo datengnya pas akhir bulan, lumayan buat nambah-nambah uang dapur, xxiixixi

  9. Saya masih belajar banget nih Mba menyesuaikan, kalau anak masih kecil memang rada-rada masih sulit mengkondisikan.

    Saya sampai rela menyesuaikan dengan jadwal anak si bayi.
    Kadang saya jadi kelelawar gitu, malam tidur cuman 2-3 jam, diterusin siang lagi baru tidur hahaha.

    Tapi ya dinikmati saja.
    Dengan segala keterbatasan ini, tetap semangat berkarya ๐Ÿ™‚

    1. nah justru ini Rey
      bisa berkarya di tengah segala keterbatasan
      justruuuu jos banget

      kalo orang lain milih rebah cantik
      tapi Rey tetap semangat ngeblog
      menurutku itu malah kerennn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *