Agenda Bapak

Hari itu begitu deg-deg-an-nya, ketika tau kalo dia bisa tau nama saya. “Inna ya?”, begitu tanyanya untuk memastikan. Sampai rumah, langsung corat-coret di diary kesayangan bergembok, dan tentunya itu diary dengan aroma semerbak wanginya

Di lain hari, dia minta tisue. Iya tisue, selembar kertas lembut yang bisa untuk membersihkan wajah ataupun tangan. Selembar tisue yang mengisyaratkan, *bisa jadi, dia juga ngerasain apa yang saya rasakan*. Duh! Makin deg-deg-an pastinya! Grogi gara-gara tisue! Kacau lah! Lalu segala perasaan campur aduk ini, kembali tertuang manis di dalam diary manis yang setia menunggu tiap jam pulang sekolah

Memory masa sekolah, terutama SMP, saat pertama kali mengenal dunia tulis menulis, atau lebih tepatnya, saat pertama kali mengenal bagaimana menuangkan perasaan lewat menulis. Ini adalah sebuah kenangan penuh arti buat saya. Lebih tepatnya lagi, saya mengenal dunia menulis, sejak saya mulai bangun malam untuk tahajud, dan melihat Bapak duduk di kursi kerjanya dengan mengenggam pena model lama, menggoreskan dengan tulisan latin rapihnya di dalam buku agendanya

“Nulis Na”, pesan Bapak suatu hari. Sebelum saya sempat bertanya, Bapak menambahkan: “Tulis aja Na”. Sebenarnya semasa saya kecil, saya bukan termasuk anak yang banyak bertanya. Ketika ada saran ataupun instruksi, saya cenderung langsung melakukan ketika saya setuju, dan mengabaikan ketika saya tidak nyaman

Begitulah, akhirnya saya punya diary pertama di kelas 1 SMP, dan berlanjut terus hingga masa kuliah. Meski durasi menulis diarynya makin renggang saja ketika usia ini bertambah. Lalu berkenalan dengan ngeblog di blogspot, belajar setting domain berbayar, dan seterusnya hingga hari ini. Pesan sederhana Bapak untuk menulis, tetap saya kerjakan. Karena saya nyaman, karena saya enjoy, karena tiap saya menulis, I feel happy, feel really gooddddd

Baca Juga  Apa Arti Sebuah Nama?

Suatu hari, saya menemukan diary masa sekolah, dan ketika saya baca ulang, kok ya geli sendiri! Isinya seputar naksir si ini dan itu (haha banyak!). Atau kekesalan karena beberapa hal di sekolah ataupun di rumah. Dan saya kenang kembali, saya bukan termasuk anak ekstrovert, yang mudah bercerita tentang apa saja ke siapa saja, termasuk Bapak atau Ibu sekalipun. Jadi diarylah tempat singgah saya ketika sedih, ketika galau, ketika resah dengan aneka keputusan

Suatu hari pula, saya menemukan tumpukan agenda Bapak dari mulai tahun 1970an hingga 1990-an. Saya ijin ke Ibu untuk membaca agenda-agenda tersebut. Covernya adalah agenda kerja. Isinya sebagian agenda kerja, sebagian yang lain tentang curahan pikiran & perasaan Bapak tentang pekerjaannya. Dan banyak lainnya tentang keluarga, kami anak-anaknya, dan tentang Ibu. Ibu yang oleh Bapak, sering disebut dengan kata Mawar

Puisi-puisi pun menggenang indah di dalam agenda Bapak. Sayang seribu sayang, saya belum sempat mendokumentasikan agenda Bapak, hingga saya pindah ke beberapa kota setelah menikah, dan ketika saya kembali ke Jogja, agenda-agenda usang tersebut tergeletak di kardus, dannnn habis dimakan rayap! D*mn you para rayaps!

Tapi segimana hancurnya agenda Bapak, kenangan & petuahnya tentang menulis, dan cantiknya rangkaian kata demi kata di dalam agendanya, tetap terekam di dalam memory saya, selamanya

#DAFTARODOP6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *