Emak-Emak Nyetir Manual Jakarta-Jogja? Hajar Bleh!

Musim liburan semesteran beberapa waktu lalu, saya dan anak-anak pergi ke Jogja. Bukan sekedar liburan dan silahturahmi ke rumah Eyangnya anak-anak, tapi juga dalam rangka memperpanjang SIM A & SIM C saya yang tahun 2020 ini usai masa berlakunya, dan juga mengambil beberapa peralatan yang masih saya tinggal ketika pindahan ke Jakarta.

Rencana awal, saya, suami dan anak-anak yang akan bepergian ke Jogja, tapi karena suami ternyata pindah kerja di tempat baru, dan dengan sistem bekerja 10 minggu – off 2 minggu, maka perjalanan liburan kali ini tanpa Ayahnya anak-anak.

Sempat berpikir untuk memakai transportasi umum, entah itu kereta atau pesawat. Tapi setelah saya pikir lagi, nanti bawa barang-barang dari Jogja gimana ya, ada blender, kasur kecil, dan segala macam printilan yang kalau ditotal bisa menjadi beberapa kardus. Gak memungkinkan kalau harus pakai transportasi umum. Akhirnya, Bismillah memutuskan pakai mobil sendiri, dan nyetir sendiri.

Halah, apa sih, nyetir Jakarta-Jogja aja spesial? Eh setidaknya buat saya ini spesial banget, karena pengalaman pertama, dan langsung bawa 2 bocah di dalam mobil, tanpa suami. Meski setelah dijalani, yaaa penuh lika-liku yang menantang.

Apalagi ini nyetir dengan mobil manual Jakarta-Jogja, pastinya sesuatu!

Jujur, selama perjalanan ke Jogja itu, saya perhatikan keknya gak ada deh sopir perempuan, selain saya, xixixiiii. Bahkan saudara dan kerabat saya, pada bilang, “Edyannn, nekad yo kowe” πŸ˜€

Modal Pengalaman Nyetir 20 Tahunan Apakah Cukup?

Keberanian untuk bawa mobil sendiri ke Jogja, sebenarnya berbekal karena saya sudah bisa membawa kendaraan roda 4, selama lebih dari 20 tahunan. Sering juga pergi ke luar kota, tapi ini duluuuu, jaman masih kuliah sering antar Ibu dari Jogja ke Purworejo bolak-balik. Ini hanya kisaran 3-4 jam bolak-balik. Pernah juga nyetirin Ibu ke Bumiayu, dari Jogja menempuh waktu sekitar 5-6 jam.

Saya pikir, karena pernah punya pengalaman nyetir ke Bumiayu, maka gak masalah sebenernya kalau nyetir dari Jakarta ke Jogja, toh ibaratnya Bumiayu itu lokasinya di tengah-tengah.

Selain persiapan mental, secara fisik pun saya berusaha menjaga fisik saya dan anak-anak tetap sehat. Saya berusaha merutinkan yoga kembali, supaya badan lebih fit dan siap nyetir jarak jauh. Bekal makanan, obat-obatan, bantal dan segala perlengkapan yang dibutuhkan, tentu saja perlu disiapkan

Serba-Serbi Emak-Emak Nyetir Jakarta-Jogja

Tiba di hari H, segala macam barang bawaan sudah masuk semua, kecuali koper yang saya masukkan di hari keberangkatan. Berangkat jam 05.15 pagi dan mampir ke Indomaret yang mengarah ke Toll untuk isi e-Money.Β ternyata mesin sedang error, maka lanjut ke sebelahnya jarak beberapa meter, apalagi kalau bukan Alfamart. Disitu ada Indomaret, maka jarak sekian meter pasti ada Alfamart πŸ˜€

Terlalu Lama Proses Isi e-Money

Nah, entah karena pegawainya masih baru atau seperti apa, cuma pengisian yang biasanya cepat, ini lebih lambat dari biasanya. Saya dan Ical turun dari mobil, sekalian beli air mineral dan roti buat bekal selama perjalanan. Alhasil kegiatan pengisian e-Money ini cukup menguras jam pagi hari. Kami baru keluar dari parkiran Alfamart ini sekitar jam 5.45.

Baca Juga  Great Father, Great Leader!

Lanjut ke McD, membeli bekal untuk sarapan, karena seingat saya waktu perjalanan melewati tol Trans Jawa, masih sedikit sekali rest areanya. Menunggu proses makanan siap, maka kami meluncur keluar dari parkiran McD itu sekitar jam 6.20.

Terlalu Percaya Dengan Google Maps

Artinya baru hampir jam setengah tujuh pagi, saya masuk tol untuk perjalanan ke Jogja. Melalui tol JORR, dan berpikir untuk memilih jalur Tol Layang Jakarta-Cikampek yang baru diresmikan. Saya sampai nonton beberapa review di youtube, tentang pengalaman orang-orang yang melintasi tol layang baru ini.

Selama perjalanan, saya menyalakan Google Maps, intinya mah saya percaya aja 100%. Kemana google maps bilang dan mengarahkan, saya ikuti. Begitu pula ketika mendekati jalur tol layang jakarta cikampek, sepenglihatan saya ada arah kekiri kalau mau mengambil tol layang tersebut, tapi G Maps mengarahkan untuk tetap di lajur kanan. Yes, karena saya memang udah niatin percaya aja sama GMaps daripada salah dan nyasar, ternyata malah salah ambil jalur. Sepertinya GMaps belum merekam jalur tol layang Jakarta-Cikampek tersebut, karena memang itu termasuk jalan baru.

Hal inilah yang bikin akhirnya terjebak kemacetan di tol jakarta cikampek. Sempat sekitar 30 menitan, laju kendaraan itu bener-bener cuma sak nyuk sak nyuk, alias maju dikittt dikittt.

Terlalu percaya dengan GMaps ini, saya juga alami ketika memilih keluar di Boyolali, kata sebagian orang sebaiknya keluar di Solo atau Bawen. Tapi lagi-lagi karena percaya dengan Gmaps, saya memilih keluar sesuai jalur yang ditentukan. Nah, Boyolali ini adalah ujung saya berada di jalur tol. Artinya mulai masuk jalur jalan biasa nih. Sesaat setelah keluar tol, ada tanda panah di pertigaan (atau perempatan ya? saya lupa :P), Klaten & Jogja ke kiri. Tapi lagi-lagi GMaps mengarahkan ke kanan. Saya dan Ical berdiskusi cepat, mau ambil jalur mana nih?

Karena melihat rekomendasi GMaps lebih cepat sekitar 30 menitan, akhirnya saya dan Ical sama-sama sepakat untuk mengambil rute tersebut. FYI, selama perjalanan ini, Ical memang lebih banyak melek nemenin saya nyetir, sementara Sasha lebih banyak boboknya πŸ˜€

Masuk Ke Jalan-Jalan Tengah Sawah, Malam Hari!

Dan taukah apa yang terjadi? Bukan nyasar sebenarnya, tapi GMaps memilihkan jalan yang benar-benar sepi, jarang kendaraan lewat, sampai masuk ke jalan-jalan tengah sawah. Bayangkan, saat sampai di area Boyolali ini, sudah lepas Maghrib. Gelap luar biasa dan hujan. Setiap bertemu mobil Plat B, duhhh hati ini begitu hepinya, berasa ada temennya, wkwkwk.

Baca Juga  Tahun Tanpa Resolusi? Lebih Baik?

Sampai paling bikin deg-degan adalah, ketika di depan saya, ada semacam pembatas jalan kanan kiri yang terbuat dari semen. Jadi semacam tugu agak lebar, yang dipasang kanan kiri. Dalam pikiran saya, ini masuk apa tidak kalau mobil lewat tengah-tengah diantara 2 tugu tersebut? Duh, puyeng bukan kepalang. Mobil mundur? Jelas gak mungkin, karena jalan-jalan di belakangnya itu berkelok naik turun begitu aduhainya.

Sepanjang memasuki jalan-jalan sepi ini, saya sudah berdzikir terus menerus. Antara was was ada orang iseng, atau *mantan orang* yang iseng πŸ˜›

Alhamdulillah, Ical turun mobil, berusaha mengukur apakah nantinya mobil bisa lewat, dibantu oleh penduduk setempat, ternyata memang mobil itu bisa lewat diantara 2 tugu tersebut, dengan sangat passsssss! Duh, saya sampai tahan napasssss!

Rest Area Masih Banyak Yang Belum Jadi

Saat melewati sepanjang tol Trans Jawa, masih banyak rest area yang belum jadi. Kami mampir sampai 5 rest area. Pokoknya saya capek, ya berhenti. Apalagi ketika sudah mulai masuk Semarang, duh duh duhh, ini kaki kiri terutama tungkai pegel bukan kepalang. Baru disini, kerasa capek luar biasa. Ada 1 rest area yang bahkan saya cuma lewat doang, karena gak yakin dengan kondisi rest area tersebut.

Rest area yang ini lebih nyaman, karena sudah jadi

Kondisi rest area memang beberapa belum jadi 100%. Toilet masih berupa mobil dadakan yang dipasang untuk jadi toilet umum. Begitupun dengan musholla, dan bahkan ada tempat makan yang belum begitu layak disebut sebagai rest area. Masih sekedarnya, ala kadarnya. Nyatanya, bukan cuma saya, yang nengok rest area, terus mobil jalan lagi. Sampai kemudian banyak yang menumpuk di rest area Semarang, karena disini memang sudah benar-benar tertata. Tapiiii penuhnya minta ampun, saya sampai sana pun tidak berhasil mendapatkan parkir, dan memutuskan lanjut ke rest area berikutnya.

Makanan Rest Area, Mahal?

Saat masuk di rest area pertama, jam 11-an masih belum masuk Dhuhur. Tujuannya memang istirahat sebentar dan ke toilet. Disini toilet dan musholla sudah cukup bagus, sayang saya lupa potret dan catat ini ada di rest area km berapa. Maaf, sudah terlalu fokus dengan lanjut nyetir lagi πŸ˜€

Nah, setiba di rest area tersebut, cuaca teramat panas, lalu Sasha minta es krim walls yang kebetulan ada disitu. Beli dong, yang model cup bisa dicolek pakai sendok. Seingat saya, harganya sekitar 3000an kalau beli di minimarket. Dan taukah? Di rest area tersebut dijual 9000 rupiah. Weh!

Begitu pula, saat saya makan sekitar jam 14.30an di salah satu rest area, makan bertiga, berikut minuman dan makanannya, habis kisaran 100ribuan, dan rasanya huwaaa huwaaa. Sepanjang pengamatan saya, tempat makan di rest area ini banyak didominasi oleh penduduk lokal tersebut. Terlihat dari managemen pelayanannya yang maaf, masih ala kadarnya. Mungkin ini salah satu kompensasi pemerintah saat membebaskan lahan warga, yaitu dengan mempersilahkan warga ikut berjualan di rest area.

Baca Juga  Kangen Tahajud

Harapan saya, supaya lebih tertata saja. Baik dari penertiban harga dan pelayanan. Wong yang bikin orang males makan di emperan Malioboro juga dulu karena harga yang gak wajar, sampai kemudian ditertibkan dan sekarang menjadi lebih teratur.

Jangan sampai nih, rest area hanya buat tempat sholat & ke toilet doang, atau mampir ke Indomaret aja. Karena males dengan harga yang tidak wajar dan rasa makanan yang kurang nendang!

Tips Nyetir Jarak Jauh Ala Emak-Emak

Oke, jadi kalau pengen nyetir jarak jauh nih, khususnya buat para perempuan, perhatikan hal-hal berikut ini

Sehat fisik

Yes, ini penting banget, karena fisik yang sehat dan fit sangat kita perlukan untuk menunjang saat nyetir jarak jauh. Bisa dibantu dengan lebih rutin olahraga beberapa minggu sebelumnya, supaya di hari H, badan kita lebih siap.

Siapkan pengisian e-Money maksimal 1 hari sebelumnya

Jika perlu lewat tol, maka belajar dari pengalaman saya, yang baru isi e-Money saat hari berangkat, ternyata ini menyita waktu hampir 1 jam sendiri, yang seharusnya bisa lebih cepat berangkat, malah terlambat karena proses pengisian e-Money ini.

Bawa Bekal Cukup

Alhamdulillah, dengan bekal cukup, perjalanan Jakarta-Jogja yang saya tempuh kurang lebih 10 jam (karena kebanyakan mampir rest area), anak-anak di mobil tidak kelaparan. Mengingat rest area juga masih ada yang belum nyaman untuk kita singgahi.

Istirahat Jika Merasa Lelah

Pastikan, segera melipir saat merasa lelah ataupun ngantuk. Makin mendekati Jogja, jujur saya makin mengantuk. Mampir rest area berusaha untuk tidur pun ternyata tidak bisa. Hanya bisa memejamkan mata untuk rehat, sekaligus mengistirahatkan kaki-kaki yang terasa pegal

Cek Kondisi Mobil

Kondisi ban dan bahan bakar, serta mobil secara keseluruhan pastikan aman untuk dibawa keluar kota. Di rest area juga tersedia tempat pengisian bahan bakar, pastikan jangan sampai mepet sekali baru ngisi bahan bakar, siapa tau ada macet tidak terduga.

Setelah pengalaman nyetir jarak jauh ini, saya tertantang lagi sebenarnya untuk menempuh perjalanan lagi. Mmm enaknya kemana ya, Jakarta-Surabaya? Yukk mari, yang penting kudu makin sehatin dan bikin fit badan nih!

49 thoughts on “Emak-Emak Nyetir Manual Jakarta-Jogja? Hajar Bleh!

  1. Aku langsung klik artikel ini karena tetanggaku emak2 seumuranku juga Jogja -Jakarta pp dg 2 anak tahun baru kemarin tapi sudah remaja. Anaknya sih belum bisa nyetir. Kupikir, ah masak sih buibuk bisa sejauh itu. Eh, ternyata ada juga yg sama wkwkwk, malah manual ini ya. Tetanggaku itu matic. Aku paling jauh cuma 6 jam. Itupun kaki udah pegel soalnya nonstop di Sumatra nggak ada rest area, hutan semua, 3 pedals juga, pake apanjah. Mungkin harus lebih santai ya, mampir rest area. Wah jadi termotivasi lagi nih buat jalan jauh. Akutu yg paling khawatir ban gembos karena nggak bisa ganti ban. Tahun baru aku ke Jkt tapi disopiri suami, sempat keluar tol cikampek karena macet lewat kampung2. Tapi barengannya banyak. Nah, pas di Boyolali kok sama kita salah ambil jalan mau ke tolnya. Muter2 mayan jauh. Kayaknya mesti di up itu seputar Boyolali supaya penunjuk arahnya lebih jelas.

    1. nah iya itu ternyata banyak juga yang nyasar-nyasar di jalur boyolalinya itu ya. tapi keknya emang gmaps hobby masuk tempat yang serba mblusukkkk

  2. wkwkwk… kami juga pernah nyasar ke kampung-kampung yang sepi saat nge-trip ke daerah Jawa Tengah karena mengikuti arahan dari google map.
    Wow…salut banget mbaaaa….bisa kuat gitu ya nyetir sendiri perjalanan jauh…

  3. Berarti aku kalo makan di rest area jawa gitu udah ga kaget sama harganyaa
    Disini (kaltim), diperjalanan, makan soto 1, rawon 1, es jeruk 1 habis 105ribu
    Rasanya? Ya gitu deh, ala kadarnya wkwkwkwkk, tapi yo gimana lagi, laper hahahaha
    Jadi pengen ngrasain jalur jawa nii, kapan yoo…

  4. Saya ngakak liat videonya si cantik kecil itu umek sendirian di belakang hahaha.

    Anyway, dirimu kereeennn maksimal sih Mbakyuu..
    Jakarta Jogja itu jauh loh, kami pernah Solo-Jakarta, nggak sanggup, sampai mampir di Cirebon nginap πŸ˜€

    Etapi sekarang jalannya udah nyambung semua ya πŸ˜€

    Btw, kami juga pernah nyasar di tol Tangerang ke Jekardah, padahal mengikuti kata si Google maps dengan baik, kalau dalam kota memang bisa diharapkan, tapi kalau di luar kota, bikin kesal deh ikut perintahnya hahahaha

  5. Beeebbbb, aku baca ini jadi merasa cemen sama diri sendiri. 20 th nya sama bisa bawa mobil, tapi pengalaman baru ke solo aja setir sendiri. Sama gantiin Panda setir malam itupun baru 1x. Mana kalau pergi sama Panda, sering ga dibolehin nyetir, katanya dugo2ku ngegas rung pas, hiks. Sehat2 terus dan kutunggu cerita jagoanmu yaaa.. Pengin ke Surabaya jg bawa mobil sendiri, kayaknya asik yaaaa

  6. Rest area yang kurang maksimal dalam harga dan rasa juga saya alami dulu saat Cipali masih baru. Entah kalau sekarang. Iya sudah mahal ga sesuai ekspektasi. Jadinya malas ke sana lagi. Hahaha

  7. Sebagai perempuan yang belum bisa nyetir, aku ikut capek dan deg-degan dong baca tulisan ini. Bukan mengkhawatirkan Mbak Inna – pengalaman 20 tahun nyetir gitu, lho – tapi lebih ke khawatir nanti kalau nyetir ketemu urusan kayak begitu juga nggak, ya? Wkwkwkw … Malah parno sendiri.

    Kayaknya paling stress tuh kalau ketemu jalanan sempit di saat sudah gelap dan sepi ya, Mbak. Kebayang deh, pikirannya pasti udah kemana-mana. Tapi kece lho … Eh ini perjalanan balik lebih seru atau gimana? Hihihi …

  8. Itu yang nyasaar ke tengah sawah masih misteri ya mba, suka heran entah kenapa maps itu kalo di daerah kok suka ngaco yaa. Kaya waktu itu juga saya diarahin malah lebih jauh udah gitu rutenya serem banget jalanan desa bebatuan dan sisinya jurang. Mantap sih udah berani nyetir AKAP hehehe

    1. nah ini juga jadi pertanyaanku mbk, bisa jadi karena gmaps nyari jalur yang paling sepiiiii. eee dapetnya yang mblusuk-mblusuk gitu jadinya

  9. Tolong dikondisikan itu pinggang yang mau copot! Hahahahahaha

    Aku bilang sih keren abiisss..berani gitu lho, bayangin aja yg dilewatin jalan2 besar, tol, yang nyelip, yang diselip semua mobil dg kecepatan wush wush kdg ada truck, container….mungkin aku yg ga punya darah tinggi, kena klakson mobil di belakangku langsung jiper hahahhaa

    Mantab, Mbak…. wong aku ga bisa nyetir, wahahahaha

  10. Emak setroooooooooong. Hehehe. Bener ya mba, kita perempuan ini terlalu percayaan sama Google Maps. Akhirnya banyak disasarin, udah kayak di-PHP-in aja. Meski demikian, saya tetap berterima kasih nih sama Mbah Google. Kalo gak ada Google Maps, kebayang kan betapa rempongnya nyetir nanya sana sini. Suami pun kalo diteleponin nanyain jalur, malah kita yg balik diomelin. Kikiki

    1. Wah, emang deh the power of emak-emak. Jadi kebayang deh gimana kalau GMap nya tunjukin jalan antah berantah sehingga nggak bisa keluar lagi, waduh ngeri2 sedap tu mak ya.😁

  11. Keren….
    Super duper deh emak yang ini. Sebenarnya mbak, tips pertama yang harus dipersiapkan jika harus menyetir sendiri jarak jauh itu adalah NEKAT. Wkwkwk…

    Saya? Mana berani. Hihi…

  12. Strong banget mbaaak pakai manual lagiii. Tapi kalau ga macet, sih malah enak manual juga yaa hehehe. Aku juga pernah setengah perjalanan Prigen-Madiun gantiin suami yang capek. Anw itu serem juga ke sawah malem malem, ga kebayaang!

  13. Wew, Jagoan banget Mak. Saya belum pernah nyetir sejauh itu. DUlu waktu masih kuliah di Yogya, pernah sih …tapi Yogya-Bandung.

    Btw, pengisian e-money bisa lebih cepat via ATM, Mak. Saya selalunya via ATM aja.

    Infonya penting banget buat persiapan juga nih kalau-kalau mau jalan -jalan lintas Jawa.

  14. Wahwahwah seru yaaaa
    Kapok gak mbak hihihi kalo aku sih suka nyetir keluar kota, lebih tenang drpd nyetir dalam kota wkwkwk jadi kemaren diajak tandem nyetir roadtrip jakarta-bali hayukk lahh.. seru juga buat konten blog hihihi

    1. waaaa jakarta-bali, seruuu banget tuhh. Kalo kapok sih enggak, cuma butuh waktu istirahat yang lama aja, secara umur,wkwkkwk

  15. Aku tuh baca ini ketawa sendiri lucu banget yaa kalo emak-emak ngetrip πŸ˜„πŸ˜„ banyak cerita hrboh riweuhnya. Tapi ini keren sih kakπŸ‘πŸ‘πŸ‘ jagoan jakarta-jogja. Akumah apa atuh.. penumpang setia ajah 😣

  16. Wah keren nih mak emak bisa nyetir untuk perjalanan jauh yang makan waktu ampe 10 jam. Jadi pengalaman yang berkesan ya Mbak. Untung aja G-Mapsnya nggak tunjukin rute yang bikin Mbak sampe nyasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *