Hei, I’m 39!

Alhamdulillah wa syukurilah, hari ini, 7 februari 2020, Allah masih menggenapkan usia saya di angka 39 tahun. Semacam kayak mimpi aja, bangun tidur udah beda usia. Entah kenapa, tahun ini, saya merasakan banget perjalanan pergantian usia baru ini.

Segala rasa juga bercampur, dari mulai syukur atas nikmat berupa suami yang begitu pengertian istrinya mau eksplore minat ke arah mana aja, yang penting mah uang bulanan tetep, tapi istri tetep bisa eksis 😀

Bersyukur dengan dua anak, yang luar biasa, ya luar biasa heboh sampai ke luar biasa melatih kesabaran Bundanya ini.

Bersyukur, Allah masih kasih saya kesempatan demi kesempatan, berupa rejeki di bidang olah suara yang sempat saya pikir udah mau saya tinggalkan karena semacam tipis kesempatan yang tersisa. Ternyata Allah jawab dengan kejutan berbeda.

Sangat bersyukur dengan rejeki kesehatan yang berlimpah, secara saya udah pernah 3x opname, dan bertahun-tahun ini dengan tidur yang cukup, badan bisa kembali nyaman. Yaa, mentok-mentok glek tolak angin deh *bukaniklan*.

Di segala rasa syukur yang ada, kadang saya memaknai bergantinya usia ini, dengan makna tersendiri. Bukan, bukan kita sedang bertambah usianya, tapi sebaliknya loh, justru usia kita makin berkurang. Ya, berkurang jatahnya.

 

Memaknai Kehilangan

Hari-hari jelang pertambahan usia ini, saya juga memaknai kehilangan-kehilangan yang sudah saya alami. Entah itu kehilangan kesempatan, yang mana kadang ini kebodohan dan kekhilafan saya sendiri. Kehilangan orang-orang terdekat sejak saya masuk usia SMA. Dari mulai Bapak di usia 62 tahun, kakak sulung di usia 40 tahun, kakak kedua di usia 53 tahun, bahkan kakak ketiga saya, hanya punya waktu menikmati hidup di dalam rahim Ibu saya saja.

Baca Juga  Liebster Award For My Dear Moms Blogger

Ya, dengan kita bertambah usia, sebenarnya kita juga sedang kehilangan sebagian jatah usia. Disini juga, tanpa terasa, kita sedang belajar memaknai dari tiap kehilangan yang kita alami.

Dari Tiap Kehilangan, Pasti Ada Maknanya

Setelah bertahun-tahun lamanya, saya sadar benar, bahwa pola disiplin saya yang lalu anak-anak saya ikuti, ini berasal dari Almarhum Bapak, yang tiap berangkat kantor selalu paling pagi, bahkan bebarengan dengan para OB kantor.

Bagaimana mencintai keluarga dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih, ini kakak sulung saya yang tunjukkan. Kata-katanya tiap melepas kami pergi ke suatu tempat adalah, “Kalo ada apa-apa, bilang Mas ya”.

Jujur, tulus, polos, apa adanya, dan no drama, inilah hidup kakak saya kedua, yang meninggal karena kecelakaan 2 tahun lalu.

 

Podcast Emak Eksis

Bertepatan dengan usia 39 tahun ini, project membuat podcast akhirnya rilis juga. Setelah blog dan juga channel youtube, apakah kurang? Begini, sejak SMP sudah tergila-gila dengan dunia radio, Podcast bisa dibilang menjadi salah satu media berekspresi ala saya banget.

Mengangkat tentang Memaknai Kehilangan ini akan jadi tema di season pertama di Podcast Emak Eksis yang rilis episode perdananya di tanggal 7 Februari 2020 ini. Kenapa namanya Emak Eksis? Mmm, ini nanti bisa dengerin aja di podcast ya, bisa melalui anchor ataupun spotify yang didownload dulu di smartphone.

Melalui podcast ini, saya juga ingin lebih berbagi, hal-hal yang mungkin *agak sulit* diterjemahkan lewat tulisan, tampaknya lebih mudah ketika disampaikan melalui bentuk suara, paling gak ini menurut saya, karena memang ini dunia saya sejak masuk dunia kepenyiaran radio di masa kuliah dulu.

Banyak cara berbagi, banyak cara berkarya, sudah temukan ramuan mana yang paling pas buat diri kita sendiri?

Baca Juga  7 Kenangan Masa Kecil, Nomor 1 Horror, Nomor 7 Malu-Maluin Banget Dah!

 


Podcast Emak Eksis Link

3 thoughts on “Hei, I’m 39!

  1. Keren mbak. Aku juga tertarik mau bikin podcast lho. Betul, kadang lebih enak menjelaskan dengan lisan dibanding tulisan.

    Btw, kalau mau mendengarkan podcastnya linknya dimana?

    Salam kenal ya mbak 🙂🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *